Waspada Politik Identitas Jelang Pemilu 2024 Bagian II

AspirasiIndo.com, Opini – Meskipun politik identitas hanya instrumen polarisasi politik temporer pada setiap momentum politik, kita tidak bisa menggangap remeh “destruction feedback” dari praktek politik identitas.
Mengingat masyarakat kita sangat mudah di sugesti dan di provokasi dengan eforia politik, dari kadar rasional hingga ke kadar yang brutal.
Politik identitas di negara majemuk ini bagai infeksi berbahaya karena menciptakan luka balkanisasi yang dalam.
Tatanan sosial retak hanya karena tujuan politik jangka pendek. Residu dari politik identitas meninggalkan luka perpecahan yang dalam serta butuh waktu yang lama untuk sembuh.
Celah ini bukan tidak mungkin menjadi ruang longgar bagi aneksasi ideologi transnasionalisme dari luar.
Politik identitas memicu “korosi ideologis” yang meluluh lantakan identitas pluralis dalam semangat “Bhineka Tunggal Ika”.
Politik identitas mengancurkan amanah konstitusi yang menegaskan bahwa kita adalah “Negara Demokratis Yang Religius” dan bukan “Negara Teokratis” yang menyunat hak pluralitas.
Politik identitas membuat Indonesia menjadi ladang subur bagi benih-benih radikalisme yang di impor dari luar.
Jika kita anggap remeh hal ini, kita bagaikan membesarkan anak harimau yang kelak siap menerkam dan mencabik-cabik kehidupan anak cucu kita.
Terlebih mungkin sebagian kita sudah tahu siapa yang bermain dibalik media sosial.
Setelah CIA dan Militer AS bermain di Facebook kini FBI juga memegang kendali serta memanipulasi Twitter.
Jadi jangan heran kalau ada Akun-akun bodong yg sulit dilacak menyebar berita kebohongan/fitnah termasuk di Perpolitikan di Indonesia khususnya menjelang Pemilu 2024.
Ingat dulu adanya Kelompok Saracen dan sejenisnya yg juga dikendalikan dari nomor-nomor telepon Luar Negeri meski belum bisa diketahui kelompok intelektual dibelakangnya.
Jadi jangan sampai kita asal latah menyebar informasi yang tidak jelas.
Media sosial bukanlah Alam fiktif ataupun Alam mimpi sehinggga kita seenaknya berbuat tanpa ada pertanggungjawaban.
Kelak dihadapkan Tuhan kita akan dimintakan pertanggungjawaban atas informasi-informasi kebohongan/fitnah yang terlanjur kita sebarkan.
sudah terlalu banyak contoh Negara yang hancur karena disebabkan penyebaran info kebohongan dari Tangan- tangan yang tidak bertanggungjawab yang dimulai dari iseng.
Bagaimana sikap kita terhadap realitas politik identitas? Gunakan nalar kritis yang sehat agar tidak terkecoh dengan provokasi hoax dan hate speech dari politik identitas.
“Dalam setiap debat berbau politik, kedepankan argumen logis bukan sentimen identitas”
Mari kita rawat solidaritas dalam pluralitas bangsa ini sebagai warisan luhur agar tetap lestari.



