Legenda Baru Tapak Di Pesisir Barat Lampung

AspirasiIndo.com, Pesisir Barat-Tidak hanya dikenal dengan wisata alam dan pantainya yang eksotis, Pesisir Barat Lampung juga menyimpan banyak wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi, diantaranya legenda batu tapak yang ada di Pekon Way Sindi Hanuan Kecamatan Karya Penggawa.
Sesuai dengan sebutanya batu tapak ini merupakan sebuah bongkahan batu yang berukuran cukup besar dan terdapat cetakan sepasang telapak kaki manusia ditengahnya.
Selain terdapat sepasang telapak kaki manusia, diatas batu itu juga terdapat telapak kaki hewan, seperti rusa dan monyet.
Lokasi batu tapak itu sendiri tepatnya berada di Pekon Way Sindi Hanuan, Kecamatan Karya Penggawa, Kabupaten Pesisir Barat Lampung.
Menurut kepercayaan masyarakat sekitar telapak kaki itu merupakan milik Syeh Muhamad Ngambihi.
Syeh Muhamad Ngambihi merupakan seorang ulama yang pertama kali menyebarkan agama Islam di wilayah tersebut.
” Syeh Muhamad Ngambihi ini merupakan ulama yang pertama kesini untuk menyebarkan ajaran Islam,” Ucap Merah Bangsawan (66) tokoh adat setempat sekaligus keturunan ke-17 dari Syeh Muhamad Ngambihi. Senin (5/9/2022).
Menurut Merah Bangsawan, keberadaan batu tapak itu sendiri tidak terlepas dari cerita rakyat tentang legenda tragedi penyembelihan Putri Sindi.
Legenda tentang penyembelihan Putri Sindi itu merupakan sejarah asal usul berdirinya Kerajaan Marga Way Sindi.
Mengenai usia batu tapak ini diperkirakan sudah berumur selama ribuan tahun.
Namun kata Merah, sejak kapan keberadaan batu tapak itu ada, tidak ada catatan pasti.
Sebab cerita mengenai batu tapak ini hanya dituturkan dari generasi ke generasi secara turun temurun.
Diceritakan oleh Merah, pada zaman peradaban manusia belum berkembang dan belum mempunyai susunan adat, serta kepercayaan masyarakat pada saat itu kebanyakan masih berpaham animisme.
Masyarakat setempat melakukan musyawarah pada waktu itu untuk mendirikan adat (marga atau kerajaan).
Setelah melakukan musyawarah penduduk asli waktu itu lantas menceritakan hasil musyawarah tersebut kepada Syeh Muhamad Ngambihi
” Disebabkan karena pendirian Adat itu merupakan sesuatu yang sangat sakral, maka syarat untuk mendirikan Adat itu harus melakukan semacam ritual atau sayembara untuk menetapkan seorang menjadi raja,” bebernya.
Diantara ritual itu harus melakukan pengorbanan darah seorang gadis yang masih suci.
” Salah satu syaratnya gadis itu harus cantik, bersih dan masih perawan, serta tidak mempunyai daun telinga,” jelasnya.
” Barang siapa yang mampu menemukan wanita seperti itu maka dia berhak dinobatkan sebagai raja,” lanjutnya.
Setelah beberapa tahun berlalu ternyata tidak ada yang berhasil menemukan wanita yang sesuai dengan syarat tersebut
” Karena melihat kesungguhan masyarakat waktu itu, maka Syeh Muhamad Ngambihi ini sendiri yang menemukan gadis yang sesuai dengan syarat tersebut, yang bernama Putri Sindi,” bebernya.
Lalu, putri Sindi itupun dibawa ke perkampungan untuk memenuhi syarat mendirikan adat.
” Menurut cerita putri Sindi ini lalu disembelih oleh Syeh Muhamad Ngambihi, dan darahnyapun mengaliri aliran sungai, dari sanalah makanya sungai dan Marga kita ini diberi nama Way Sindi,” ucapnya.
Setelah putri Sindi ini disembelih maka kejadian anehpun terjadi, sungai yang dialiri darah putri Sindi itu tidak pernah kering meskipun kemarau sangat panjang hingga sekarang.
Menurut Merah, Putri Sindi yang di sembelih itu bukanlah Putri Sindi yang asli.
Sebab, tidak mungkin seorang ulama besar penyebar agama Islam menyembelih seorang manusia yang tidak berdosa.
” Menurut saya yang disembelih itu bukanlah Si Sindi yang asli namun se ekor Rusa atau Kambing yang wujudnya seolah-olah seperti manusia, hal itu tidaklah sulit jika Allah menghendaki,” kata dia.
Setelah menyembelih Putri Sindi itu, Syekh Muhamad Ngambihi pun melompat kesebuah batu.
Bekas tapak Syeh Muhamad Ngambihi itupun tercetak jelas di atas batu.
” Di batu tapak itulah tempat Syeh Ngambihi menginjakan kakinya, diatas batu tapak itu kita bisa melihat sendiri ada banyak bekas telapak kaki binatang seperti tapak seekor rusa,” ujarnya.
” Bekas tapak itu juga seolah-olah memberi petunjuk siapa yang sebenarnya yang disembelih itu,” tutupnya. (Rapel)



